The Guy in the Glassby Dale Wimbrow, (c) 1934
When you get what you want in your struggle for pelf,And the world makes you King for a day,Then go to the mirror and look at yourself,And see what that guy has to say.For it isn't your Father, or Mother, or Wife,Who judgement upon you must pass.The feller whose verdict counts most in your lifeIs the guy staring back from the glass.He's the feller to please, never mind all the rest,For he's with you clear up to the end,And you've passed your most dangerous, difficult testIf the guy in the glass is your friend.You may be like Jack Horner and "chisel" a plum,And think you're a wonderful guy,But the man in the glass says you're only a bumIf you can't look him straight in the eye.You can fool the whole world down the pathway of years,And get pats on the back as you pass,But your final reward will be heartaches and tearsIf you've cheated the guy in the glass.
Mari kita lihat maknanya melalui terjemahan bebas berikut ini.
Ketika kita mendapatkan segala apa yang kita inginKetika dunia kita raja sehariPergilah ke muka cermin dan cermati pantulannya sepertinya menjadikanLihat apa yang akan dikatakan sosok dalam cermin itu …
Kadang hati kita begitu gempita saat meraih apa yang kita kehendaki, apapun caranya. Seolah dunia berpihak pada kita dan bahkan rasanya ingin berteriak “Akulah empunya dunia!”. Baju terasa sesak karena gelegak keberhasilan. Kita merasa jadi orang paling hebat di dunia. Wow! Tapi betulkah kita adalah yang terbaik? Cobalah bercermin. Ya ya, mungkin setiap hari kita menggunakan cermin, mematut diri supaya tampak rapi jali, mengkilat seperti berlian baru digosok. Tapi kali ini cobalah amati sosok dalam cermin itu lebih seksama. Perhatikan orang itu, ekspresinya, bahasa tubuhnya, sinar matanya, kira-kira apa komentarnya tentang kita yang baru saja melompat-lompat gembira?
Bukan ayah kita, ibu kita, atau pasangan kitayang harus kita mintakan pendapatnya pertama kaliOrang terpenting dalam hidup kita adalah sosok dalam cermin itu
Memangnya seberapa penting sih orang itu? Penting! Dialah orang paling penting dalam hidup kita. Sosok itulah yang perlu kita dengar. Pesan-pesannya adalah pesan paling murni yang bisa kita dapat. Boleh saja kita minta pendapat pada orangtua yang sangat kita hormati, atau pada pasangan kita sebagai orang terdekat yang kita miliki. Tapi yang sungguh-sungguh-sungguh tidak boleh diabaikan adalah si sosok itu karena dialah ISI HATI KITA yang sesungguhnya.
Dialah orang yang pertama kali harus kita buat senang, bukan orang lainkarena dia akan terus bersama kita hingga mencapai akhirKita dikatakan lulus dari ujian yang paling sulit dan
berbahayakalau sosok dalam cermin itu menjadi sahabat kita
Ya, orang dalam cermin itu yang harusnya kita buat bahagia. Bukan boss kita di kantor yang utama harus kita ambil hatinya supaya kita cepat naik gaji. Sosok dalam cermin itulah yang hidup bersama kita sepanjang hayat. Dia yang mendampingi kita, mengingatkan kita, dan tidak pernah meninggalkan kita apapun yang terjadi. Keberhasilan terbesar kita adalah kalau kita bisa hidup bergandengan tangan dengannya, tidak membuatnya sedih atau kecewa karena ulah kita.
Bisa saja kita sedikit bertindak curang dan tetap menganggap kita adalah orang baikTapi sosok dalam cermin akan berkata kita tak lebih dari orang yang rendahkalau kita tak sanggup menatap tepat di matanya
Kadang kehidupan keras atau iming-iming kenyamanan mendorong kita mencuri kesempatan untuk berbuat tidak jujur. ”Hmm, kalau kecil kan tidak apa-apa? Ah, cuma mengambil kertas setengah rim kok dari kantor untuk tugas makalah anak kita. Ah, cuma mark-up lima ribu rupiah kok untuk penggantian uang taksi atas tugas kantor tadi. Toh kita sudah jadi pegawai yang baik, lihat saja produk yang berhasil kita jual, perusahaan tidak akan rugi. Itu namanya bukan curang, bukan korupsi, saya pegawai jujur!!” Tapi coba pandang sosok di cermin tadi, tatap matanya dalam-dalam. Masih sanggupkah kita berteriak lantang “Saya orang jujur!!” Sosok itu tahu betul kelakuan kita, sosok itu tahu betul apa yang namanya kejujuran. Dia tidak bisa “dibeli”, tidak pernah bisa. Tatap dalam-dalam sekali lagi matanya, apa katanya tentang kita? Mungkin dia mencibir dan berkata “Kamu cuma orang rendah, murahan!”
Kita bisa saja mengelabui seluruh dunia sepanjang segala masadan setiap kali tetap mendapat pujian Tapi akhirnya apa yang kita dapat hanyalah sakit hati dan air matakalau kita menipu sosok dalam cermin itu
Orang lain memang bisa kita bohongi. Anak kita, pasangan kita, boss kita, klien kita, bahkan sahabat kita. Ada sejuta alasan yang bisa kita pilih. Dan kita bisa begitu manisnya mengemas kebohongan sehingga kita tetap baik di mata mereka. Bahkan pejabat yang memperkaya diri hingga milyaran rupiah dari cipratan proyek pun bisa tetap menjabat dan bahkan mendapat penghargaan. Tapi apa kita bisa menipu orang dalam cermin itu? Tatap matanya dalam-dalam, sekali lagi dan sekali lagi. Betapa remuk rasanya kalau mata itu sekali lagi hanya berkata “Kamu cuma orang rendah, murahan!” bersama sebuah cibiran sinis.
Rekan, sosok dalam cermin itu adalah SUARA HATI kita, citra Sang Maha Esa yang diletakkannya di dalam diri kita. Dale Wimbrow mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri. Menyayangi diri kita sendiri. Bukan dengan menjadikannya bergelimang harta atau sanjungan, tapi dengan menjadikannya selalu lebih baik, sebagaimana Sang Maha Esa menghendaki kita menjadi individu yang selalu menjadi lebih baik.
0 komentar:
Poskan Komentar